Inilah Kitaro, Murai Batu Yang Bikin Jokowi Kesengsem

0
23

MUHAMMADNur Alamsyah (40), warga Jalan Pusponegoro, Kota Brebes ini, tak menyangka jika burung piaraannya berhasil menjadi juara lomba burung tingkat nasional di ajang Piala Presiden, Minggu (11/3) lalu. Yang lebih membaggakannya, burung keseyangan jenis Murai Batu yang diberi nama Kitaro itu, sempat membikin tertarik Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memilikinya. Apa keistimewaanya?

Berbicara burung kicau, Muhammad Nur Alamsyah yang akrab di sapa Dede ini terbilang pri yang sudah puluhan tahun berkecimbung di hobinya tersebut. Di dampingi adiknya, Muhammad Purwanto (37), ia sudah 20 tahun menggeluti dunia burung kicau.

Berawal dari memelihara burung jenis Anis, Dede kemudian tertarik untuk memelihara burung jenis Murai Batu. Dari ketertarikannya itu, akhirnya ia menemukan Kitaro yang berhasil mengantarkan namanya dikenal di tingkat nasional.

“Kalau seneng burung, saya sudah lama. Sudah 20 tahun saya memelihara burung kicau,” ujar Dede ditemui dikediamannya, Rabu (14/3).

Ia menceritakan, awal mula menemukan Kitaro bukan hal yang mudah dan membutuhkan waktu cukup lama. Bermula dari seringnya mengikuti lomba burung kicau, akhirnya ia melihat seekor burung Murai Batu yang dinilai istimewa.

Meski demikian, Dede tak langsung membeli burung yang diincarnya tersebut. Melainkan, melakukan berulang kali pengamatan di setiap event lomba yang diikuti Kitaro. Hampir dua tahun, dede melakukan pengamatan itu hingga akhirnya Kitaro dibeli.

“Saya dapat Kitaro ini sekitar tahun 2016 lalu, dari seorang pecinta burung kicau di Jakarta. Harganya, ya lumayan lah,” ujar Dede yang enggan menyebutkan harga saat membeli Kitaro.

Burung murainya itu, lanjut dia, aslinya berasal dari Lampung. Kitaro awalnya merupakan burung hutan yang ditangkap dan dipelihara untuk mengikuti lomba. Dari pemilik pertama itu, kemudian Kitaro dibeli seseorang di Jakarta, sebelum akhirnya pindah tangkan ke dirinya.

“Selain suaranya, Kitaro ini saya beli karena tertarik fisiknya yang kuat. Burung Murai Batu umunya saat lomba hanya mampu ikut satu sampai dua sesi. Tapi, Kitaro ini mampu ikut hingga lima sesi. Hebatnya lagi, semakin lama suaranya semakin kuat, makanya Kitaro juga dijuluki burung diesel. Ya, tentunya saya juga mengamati track recordnya yang sering juara,” ungkap Dede yang juga memiliki klub burung kicau Prima Brebes.

Selain suara dan fisiknya, sambung dia, Kitaro mempunyai keistimewaan lain dibanding Muarai Batu pada umumnya. Saat berkicau, ekor Kitaro bergerak ke kiri dan ke kanan. Sementara, Muarai Batu pada umumnya ekor saat berkicau bergerak naik turun.

“Sudah sejak beli, burung ini namanya Kitaro. Saya sendiri kurang tahu persis kenapa diberi nama Kitaro,” sambung Dede.

Ya, keistimewaannya itu lah yang ternyata mampu mengantarkan Kitaro membawa pulang dua juara pertama di Piala Presiden lalu. Yakni, di kelas Murai Batu BnR dan kelas Murai Batu Radja. Dari dua juara itu, selain tropi dan piagam, juga mendapatkan hadiah uang tunai totalnya Rp 18 juta.

Sebelum terjun di Piala Presiden, Kitaro ternyata telah melanglang buana menjuarai berbagai lomba burung kicau di sejumlah daerah, dari tingkatan regional hingga nasional. Di antaranya, juara lomba di Kota Tegal, Kerawang, Bekasi dan Tanggerang.

“Kali pertama dapat Kitaro dan setelah bulunya rontok, saya cobakan ikut lomba di Kota Tegal. Hasilnya, meraih juara pertama. Kemudian, saya coba lagi ikut di beberapa kota dan alhamdulilah selalu juara, sebelum ikut di Piala Presiden,” lanjut Dede.

Saat di Piala Presiden, tutur Dede, Presiden Jokowi memang sempat tertarik dan bertanya seputar burung miliknya. Bahkan, sempat ada niat mau membeli. “Ya saat lomba (Piala Presiden) kemarin, Pak Jokowi memang sempat tanya-tanya. Bahkan, ada niat mau membeli mungkin tertarik dengan suaranya. Tapi, itu saya kira hanya basa basi untuk menyenangkan kami pemilik burung. Sebab, saya memang tidak ada niat untuk menjualnya,” terang dia.

Ditegaskan Dede, untuk saat ini dirinya tidak ada niat untuk menjual Kitaro meski ada yang menawar dengan harga tinggi. Sebab, untuk saat ini burungnya itu akan dirawat sambil diikutkan lomba. “Kalau saat ini tidak saya jual, kerena rencananya akans saya ternak untuk kelesatian,” tandasnya.

Terkait jual beli burung itu, ia mengaku ada pengamalam menarik yang dialaminya. Saat memiliki burung jenis Anis, burungnya itu saat ikut lomba di Semarang sempat ditawar seharga Rp 200 juta. Karena masih sayang, tawaran itu ditolak. Namun nahas, saat burungnya disimpan di rumah, keesokan harinya mati karena dimakan tikus. “Ya mungkin ini belum rezeki saya,” sambungnya.

Lebih lanjut Dede menungkapkan, untuk perawatan Kitaro tidak jauh berbeda dengan jenis Murai Batu pada umumnya. Selain diberi makan dan dimandikan, juga sering diembunkan dan dijemur saat pagi hari. “Kalau untuk perwatan tidak ada yang istimewa, ya hampir sama dengan burung Murai lainnya,” pungkas dia.

[suara merdeka]

Tinggalkan Komentar:

Tekan enter untuk komentar
Tulis nama kamu