Pitohui, burung eksotis dari Papua yang menyimpan racun

burung hooded pitohui

Beberapa hewan diketahui mempunyai kemampuan mengeluarkan racun yang digunakan sebagai bentuk pertahanan diri maupun untuk memangsa hewan lainnya. Tapi bagaimana jika ada burung yang memiliki racun tapi tidak untuk digunakan untuk tujuan tersebut? Salah satunya adalah pitohui, burung eksotis dari Papua yang menyimpan racun. 

Di Papua, ada enam jenis burung yang disebut Pitohui yang berasal dari keluarga Pachycphalidae. Meski keenam jenisnya itu sama-sama memiliki racun di kulit dan bulunya, namun ada tiga jenis yang pertama kali diidentifikasi sebagai burung beracun yaitu hooded pitohui, diikuti variable pitohui dan rusty pitohui.

burung pitohui yang beracun
Hooded pitohui (Pitohui dichrous)

Racun pada burung pitohui terdapat pada permukaan kulit dan bulu burung pitohui, dan jenis racunnya termasuk dalam kategori neurotoxin yaitu racun yang menyerang jaringan otak. Dalam sebuah penelitian, tikus yang disuntik oleh neurotoxin ini akan langsung mati saat itu juga.

Hanya membutuhkan 0,1 miligram dari racun tersebut untuk bisa memberikan efek. Racun ini adalah Batrachotoxin, senyawa alkaloid steroid yang juga terdapat pada kulit poison dart frogs atau katak beracun dari Colombia.

Meski begitu, pitohui tidak memproduksi racun dalam tubuhnya, melainkan racun tersebut didapatnya setelah memangsa serangga-serangga yang ia makan, salah satunya adalah serangga Choresinedari dari genus Melyrid. Serangga ini berukuran 5,4-6,2mm, berwarna kuning dan kehitaman pada bagian kepala dan tubuh atasnya.

Serangga

 

Serangga yang ditemukan di tempat yang sama dengan burung Pituhui ini, menghasilkan batrachotoxin dari modifikasi phytosterol tanaman. Batrachotoxin yang dihasilkan oleh serangga Choresine kemudian berpindah ke dalam tubuh burung Pituhui melalui mekanisme penyerapan dalam proses pencernaan burung lucu tersebut. Senyawa tersebut kemudian akan tersimpan di dalam lapisan kulit dan bagian bulu burung Pitohui.

BACA:  Tips singkat atasi burung macet bunyi

Namun berbeda dengan bulu yang terdapat pada Bulu babi atau Temnopleurus alexandri, racun pada burung pitohui tidak memberikan efek mematikan ketika Anda memegang atau menyentuh bulu-bulunya. Tapi lain ceritanya kalau burung ini dikonsumsi, maka racun Batrachotoxin akan ikut masuk ke dalam tubh dan langsung mempengaruhi sel saraf dan otak, sehingga terjadi  depolarisasi. Hal ini pula yang memicu mati rasa atau kesemutan, dan dalam kasus terparah bisa menyebabkan kelumpuhan.

Bukan itu saja, batrachotoxin juga akan berefek pada otot-otot jantung dan mengganggu konduksi jantung sehingga menyebabkan terjadinya serangan jantung.