Pro Kontra Burung Dilindungi dan Revisi Permen LHK

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi baru dua bulan berajalan.  Namun dalam perkembangannya, banyak pro dan kontra bermunculan, termasuk juga ketika muncul wacana untuk meREVISI Permen tersebut.

Peraturan baru ini memuat 921 jenis tumbuhan dan satwa liar yang menggantikan lampiran Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Berdassarkan lampiran tersebut, burung merupakan jenis satwa yang jumlahnya paling banyak di daftar dilindungi.

Perturan yang baru ini juga mencakup jenis-jenis burung yang saat ini tengah mengalami penurunan populasi di alam. Hal ini terjadi pada semua jenis burung cica-daun (Chloropseidae), serta beberapa jenis burung kacamata (Zosterops sp.) akibat banyak ditangkapi untuk diperdagangkan.

Namun baru dua bulan berjaan, Permen LHK No.20 ini mendadak akan direvisi. Tiga jenis burung yang telah masuk dalam daftar dilindungi seperti jalak suren (Gracupica jalla), murai batu / kucica hutan (Kittacinla malabarica), dan cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus), akan dikeluarkan dari status dilindungi tersebut.

Munculnya desakan revisi tersebut atas permintaan dari komunitas kicaumania, penangkar dan juga penggemar burung berkicau di Indonesia. Sebelumnya, pada  4 September 2018, KLHK menggelar dialog bersama komunitas pencinta dan penangkar burung di Bogor.

Dalam kesempatan itu, para penangkar menyampaikan keberhasilan mereka melestarikan tiga jenis burung tersebut di luar habitatnya. Mereka pun berharap agar KLHH melakukan tinjauan aspek sosial, ekonomi, dan budaya sebagai bahan pertimbangan untuk mengeluarkan tiga jenis burung dari daftar satwa dilindungi.

Terkait adanya rencana REVISI Permen LHK P.20 tentang Jenis Satwa dan Tumbuhan yang Dilindungi itu, beberapa pihak menyatakan keberatannya. Yayasan Burung Indonesia dengan tegas menolak rencana tersebut,

BACA:  Lovebird Kusumo, Lovebird Fenomenal itu kini telah tiada

“Ketiga jenis ini, murai batu, cucak rawa, dan jalak suren, memang patut dilindungi. Ketiganya tengah mengalami penurunan populasi dan jumlahnya terbatas,” jelas Dian Agista, Direktur Eksekutif Burung Indonesia seperti dilansir dari situs mongabay.co.id.

Hal senada diungkapkan oleh organisasi perlindungan hutan dan satwa liar, PROFAUNA Indonesia.

Afrizal Abdi, juru kampanye PROFAUNA Indonesia menyatakan, bila ketiga jenis burung tersebut dikeluarkan dari daftar dilindungi karena adanya tekanan sekelompok masyarakat yang berada di pusaran bisnis perdagangan burung, adalah sebuah ironi.

“Ini kemunduran sekaligus ancaman bagi dunia konservasi satwa. Nanti, bisa saja mereka menuntut jenis-jenis lain termasuk kakatua dan nuri yang banyak diminati penghobi burung, untuk dibatalkan sekaligus dikeluarkan dari daftar satwa dilindungi,”  ujarnya.

Revisi peraturan harus dibuat berdasarkan kajian ilmiah, bukan karena faktor lain. “Kekhawatiran para komunitas juga berlebihan, karena yang dilarang merupakan burung-burung hasil tangkapan dari alam,” tambahnya.

Karlina Indraswari, Direktur Pendidikan FLIGHT: Protecting Indonesia’s Birds, LSM yang aktif mengadvokasi pentingnya melindungi burung di Indonesia mengatakan, populasi burung yang hendak dikeluarkan itu mulai jarang terlihat di alam liar. “Burung-burung yang beredar di pasar itu juga tidak diketahui tahu asalnya. Apakah dari alam, atau mungkin hasil selundupan. Sudah ada bukti hingga 2017, sekitar 3.240 individu burung diselundupkan dari Malaysia termasuk di dalamnya murai batu,” tandasnya.