Sirit uncuing, burung pembawa berita duka

Sirit uncuing termasuk jenis burung yang menyukai hutan-hutan terbuka, tegalan dan kawasan pemukiman yang ada di pedesaan. Tak jarang pula burung pembawa berita duka ini dijumpai di kawasan perkotaan dan di taman-taman kota.

Di beberapa daerah, burung ini memiliki beberapa nama sebutan mulai dari kedasih atau daradasih, sirit uncuing, manuk wiwik, uncuing, emprit ganthil, sampai dijuluki sebagai burung kematian. Burung ini memang lebih sering terdengar suaranya saja yang mendayu-dayu ketimbang penampakan fisiknya.

Sebagian besar masyarakat indonesia percaya bahwa keberadaan burung sirit uncuing di sekitar tempat tinggal mereka memiliki makna membawa kabar duka.

Ia kerap berbunyi di balik rimbunan pohon tanpa bergerak maupun berubah posisi, tak jarang suaranya akan terdengar pada malam hari. Burung ini bahkan dipercaya sering hadir ketika ada seseorang yang sedang sakit parah.

mitos dan jenis burung wiwik kedasih media burung

 

Mitos yang beredar menyebutkan jika suaranya terdengar di sepertiga malam terakhir maka itu menandakan ada seorang lanjut usia di sekitar daerah tersebut yang akan meninggal dunia.

Adapun jika suaranya terdengar sebelum tengah malam, itu jadi pertanda bahwa yang akan meninggal di daerah tersebut adalah seorang yang masih berusia muda.

Bagaimana pun, itu hanyalah mitos atau patutur dari para orang-orang tua dahulu yang hingga kini masih dipercaya turun temurun. Meski begitu, itulah keunikan burung sirit uncuing yang masih diyakini hingga kini oleh sebagian kalangan.

Sejatinya, sirit uncuing tak ubahnya seperti burung kicauan biasa. Mereka biasanya akan mulai ramai berbunyi pada awal musim penghujan. Pada saat itulah mereka saling bersahut-sahutan untuk mendapatkan pasangan kawinnya.

Keunikan lain adalah, setelah kawin, tak butuh waktu lama bagi burung ini untuk bertelur. Keunikan lainnya adalah kebiasaannya pada waktu akan bertelur.

Tidak seperti burung lain yang akan membangun sarang untuk mengerami telur dan merawat anak-anaknya. Sirit uncuing justru meletakkan telurnya di sarang milik burung lain yang mempunyai ukuran tubuh jauh lebih kecil.

Telur mereka pun akan cepat menetas, bahkan lebih cepat dari telur lain yang ada di dalam sarang tersebut. Setelah menetas, anakan sirit uncuing akan segera membuang telur-telur yang ada di dekatnya. Dengan begitu, indukan burung tersebut akan lebih fokus merawat dan membesarkannya sendirian.

Itulah keunikan burung sirit uncuing yang keberadaannya kini mulai kian tergerus oleh pembangunan dan perburuan liar.

Di indonesia, setidaknya ada tiga jenis burung sirit uncuing yang dikenal di kalangan masyarakat. Informasi tiga jenis burung kedasih ini juga bisa dilihat kembali dalam artikel berikut ini:

Mitos menyeramkan di balik senandung pilu burung kedasih

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close